Senin, 18 Juni 2012

Hotel dan Restaurant Bangkalan


HOTEL
1. Ningrat
KH. Moh Cholil Street 113, Phone. 031-3095388, 3095507
2. PKPN Motel
Panglima Sudirman street 112 A, Phone. 031-3095109, 3098796
RESTAURANT
1. Sri Rejeki restaurant
KH. Moh. Yasin street Bangkalan,
Phone. 031-3095214
2. Oentoeng restaurant
Sukarno – Hatta street Bangkalan,
Phone. 031-3090835
3. Café Italiano
KH. Lemah Duwur street Bangkalan
Phone. 031-3094566
4. Café Donald
KH. Moh. Cholil street Bangkalan
Phone. 031-3095734
5. Zamzam restaurant
Trunojoyo street 14 Bangkalan,
Phone. 031-3096781
TRAVEL TOURISM
1. Fian Travel

Trunojoyo street Kamal, Bangkalan
Phone. 031-3011431


HOTEL
1. Ningrat
KH. Moh Cholil Street 113, Phone. 031-3095388, 3095507
2. PKPN Motel
Panglima Sudirman street 112 A, Phone. 031-3095109, 3098796
RESTAURANT
1. Sri Rejeki restaurant
KH. Moh. Yasin street Bangkalan,
Phone. 031-3095214
2. Oentoeng restaurant
Sukarno – Hatta street Bangkalan,
Phone. 031-3090835
3. Café Italiano
KH. Lemah Duwur street Bangkalan
Phone. 031-3094566
4. Café Donald
KH. Moh. Cholil street Bangkalan
Phone. 031-3095734
5. Zamzam restaurant
Trunojoyo street 14 Bangkalan,

Pantai Sambilangan



Di obyek wisata Pantai Sembilangan, terdapat mercusuar yang sudah tidak aktif lagi sekarang. Terletak di desa Ujung Piring, kecamatan Socah, mercusuar ini di bangun pada tahun 1879 oleh Belanda dengan ketinggian 78 M dan di resmikan oleh Z.W. Williem III.
Layaknya mercusuar pada umumnya, mercusuar Sembilangan berfungsi sebagai navigasi bagi kapal-kapal Belanda yang waktu itu hendak masuk dari Laut Jawa ke Selat Madura dan bersandar di pelabuhan Tanjung Perak.
Arsitektur utama dari mercusuar ini terbuat dari lempeng besi yang dibuat melingkar dan saling merekat satu sama lain. Yang mana di bagaian tengah dari mercusuar ini terdapat lubang vertical dengan diameter kurang lebih 1.5 m sampai 2 m yang digunakan untuk menaikkan barang dari bawah.
Mercusuar ini memilikii 17 lantai bangunan, dengan jarak jangkau lampu sekitar 20 mil. Sedangkan luas lahan keseluruhan mersucuar Sembilangan sekitar 1hektar. Demi keamanan, bangunan ini dijaga oleh 3 navigator. Mereka tinggal di sebuah bangunan yang dibangun di area mercusuar.
In Sembilangan Coast attractions, there is a lighthouse that is no longer active today. The end plate is located in the village, district Socah, this lighthouse was built in 1879 by the Dutch with a height of 78 M and inaugurated by ZW Willem III.
Like a lighthouse in general, serves as a navigational beacon Sembilangan for Dutch ships, who was about to go from the Java Sea to the Strait of Madura and leaning at the port of Tanjung Perak.
The main architecture of the lighthouse is made of iron plates made ​​a circle and glue each one another. Which in this part of the center of the lighthouse, there are vertical holes with a diameter of approximately 1.5 m to 2 m are used to raise the goods from the bottom.
This lighthouse memilikii 17-story building, with a range of light about 20 miles. While the total land area of about 1hektar mersucuar Sembilangan. For security reasons, the building is guarded by 3 navigator. They lived in a building constructed in the lighthouse area.

Jenis Kesenian Bangkalan


Bangkalan memiliki berbagai seni dan upacara tradisional sebagai potensi pariwisata yang layak untuk dipertunjukkan, seperti: 
- Tari Moang Sangkal 
- Tari Topeng Angklung
- Tari Rokat
- Tari Keraban 
- Tari Nelayan
- Tari Andongan 
- Tari Blandaran 
- Tari Tera 'Bulan 
- Tari Sholawat Nabi 
- Tari Nyello 'Aeng 
- Tari Reng Majangan
- Kesenian Hadrah Jidor
- Salaban (Sandur Madura)

Pantai Rongkang




Pantai rongkang merupakan salah satu tempat wisata di Bangkalan, terletak di desa Kwanyar, di kecamatan yang sama, sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum.
Lokasi pantai yang masih alami, dengan pepohonan dan bebatuan di sekitar pantai membuat obyek wisata ini mejadi lokasi yang sering dikunjungi, tapi juga masih belum terlalu ramai sehingga cocok untuk dijadikan obyek wisata yang tenang dan nyaman.
Rongkang beach is one of the resorts in Bangkalan, located in the village Kwanyar, in the same district, it is very easy to reach by private car or public transport.
Location of unspoiled beach, with trees and rocks around the beach makes this tourism form the locations that are frequented, but still not too crowded, making it suitable to be a tourist attraction that is quiet and comfortable.

Kebudayaan Karapan Sapi



Karapan Sapi adalah acara khas masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October. Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis. Joki tersebut berdiri menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1 menit.
Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan; peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu yang digunakan sebagai kepercayaan untuk menang. Karena, terdapat seorang dukun yang akan mengusahakannya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang dukun sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.
Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang Karapan Sapi merupakan agenda wajib yang akan selalu ramai didatangi, baik oleh turis lokal maupun internasional. Adanya anemo masyarakat akan upacara ini sangat besar dan bisa menjadi bukti akan kayanya kebudayaan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Karapan Cow is a distinctive event in the title of the Madurese community every year in August or September, and will in lombakan again in the final at the end of September or October. Cows on Karapan this, there is a jockey and two head of cattle are being forced to run as fast as possible to the finish line. The jockey pulled up a sort of wooden train and control the motion of running cattle. Racetrack length of approximately 100 meters and takes place within 10 seconds to 1 minute.
In addition to the perlombakan, karapan cow is also a festival event and tradition that can raise the prestige and social status. For those who want to follow the race karapan cattle, have to spend quite a bit to train and care for the cows that will be contested before. To form the body of a cow that will come karapan to be healthy and strong, will cost up to Rp 4 million per pairs of cattle for food and other maintenance. Karapan cows given various herbs and dozens of eggs per day, let alone competed in the arena before karapan.
For the people of Madura, Kerapan executed after a successful reaping the harvest of rice or tobacco. For now, other than as a venue that boasts, kerapan cows also have a role in various fields. For example in economics, namely as an opportunity for people to sell; the role of religious magic; example of certain calculations for the owner of the cow before the match and the presence of certain spells that are used as the confidence to win. Because, there is a shaman who will work on that. On each team must have a shaman as an expert team to win the race.
Karapan procession beginning of this cow is a cow couples paraded around the track with gamelan accompaniment of Madura, which is Saronen. The first round is the determination of the winning and losing groups. The second half is the determination of the defeated champion, was the third round is the determination to win the championship. President of the trophy given to winners only win the Cow Karapan a mandatory agenda that will always crowded visited by both local and international tourists. Anemo the ceremony there will be very large and could be evidence of a wealth of culture in Indonesia, especially in East Java.

Bukit Geger



Bukit Geger, terletak kurang lebih 30 km arah tenggara kota Bangkalan, tepatnya berada di desa Geger, kecamatan Geger.
Bukit yang hijau dan tenang ini berada di ketinggian sekitar 150-200 M dari permukaan laut. Obyek wisata bukit Geger ini banyak dikunjungi wisatawan yang datang ke Bangkalan, selain sebagai bumi perkemahan juga biasa digunakan sebagai tempat pendakian.
Disekitar bukit, terdapat lokasi-lokasi lainnya yang bisa dikunjungi seperti, hutan akasia, hutan mahoni dan hutan jati seluas 42 hektar. Terdapat pula, Lembah Palenggiyan dengan keindahan danau dan jajaran sawahnya yang hijau dan mempesona.
Bukit ini juga memiliki 5 goa legendaris dan bersejarah, dengan nama-nama dalam bahasa Madura yaitu: Goa Petapan (gua untuk bersemedi), Goa Potre (gua putri), Goa Planangan (gua laki-laki), Goa Pancong Pote (gua pancung putih), dan Goa Olar (gua Ular).
Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura, yaitu Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang. Menurut sejarahnya, beliau adalah orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger
Geger hill, located about 30 km south east of Bangkalan, Geger precisely located in the village, district Geger.
A green and quiet hill is located at an altitude of about 150-200 M from the sea surface. Geger hill is a tourist attraction visited by many tourists who come to Bangkalan, as well as the campsite is also commonly used as a place to climb.
Around the hill, there are other locations that can be visited such as, acacia forests, forests of mahogany and teak forests covering an area of ​​42 hectares. There is also, Palenggiyan Valley with beautiful lakes and green fields line and fascinating.
This hill also has 5 cave legendary and historic, with the names in the language of Madura is: Petapan Goa (cave to meditate), Goa Potre (cave daughter), Goa Planangan (cave man), Goa Pancong Pote (cave white train ), and Goa Olar (cave snake).
That said, Hill Geger into place the first human to set foot on earth Madura, which is Patih Medang Pranggulan of the Kingdom. Historically, he was the first to land on Planggirân (rock piles) on the hill Geger

Makam Aer Mata Ratu IBU


Makam Aer Mata merupakan komplek makam raja yang berada di utara kabupaten Bangkalan. Makam ini merupakan makam raja-raja yang memerintah jauh sebelum Indonesia membentuk negara kesatuan.
Komplek situs sejarah yang terletak sekitar 30 Km dari arah kota, atau kurang lebih 30 menit perjalanan darat tersebut menyimpan banyak fakta dan cerita sejarah, termasuk peninggalan berupa makam Islam kuno, yang disertai dengan arsitektur budaya Hindu-Budha yang telah ada dan berkembang sebelumnya.
Aer Mata, dalam bahasa Madura berarti Air Mata. pemakaman ini berasal dari kisah Pangeran Cakraningrat I (Raden Praseno), yang memerintah Pulau Madura dalam kurun waktu sekitar tahun 1624-1648. Saat menjalani masa pemerintahan tersebut, Cakraningrat I mempunyai seorang permaisuri yang konon sangat cantik jelita, dengan nama Syarifah Ambami yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Ratu Ibu.
Saat sang pangeran menjalani masa pertapaan, Ratu Ibu terlihat bersedih dan terus menerus menangis. Bahkan, dalam cerita dari warga sekitar, air mata yang keluar sampai membanjiri tempat pertapaan beliau. Itu terjadi hingga beliau wafat dan dikebumikan di tempat pertapaannya.
Sampai sekarang tempat pertapaan tersebut, menjadi situs bersejarah yang oleh warga sekitar dinamakan Makam Aer Mata Ratu Ibu, terletak di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan.
Aer Mata is the tomb of the king's tomb complex in the northern districts Bangkalan. This tomb is the tomb of the kings who reigned long before Indonesia form a unitary state.
Complex historical site, located about 30 Km from the city, or approximately 30 minutes journey by road is saving a lot of historical facts and stories, including a relic of an ancient Muslim cemetery, which is accompanied by the architecture of the Hindu-Buddhist culture that has existed and developed earlier.
Aer Mata, in the language of Madura means of Tears. This burial came from the story of Prince Cakraningrat I (Raden Praseno), who ruled the island of Madura in the period around the year 1624-1648. When the reign of the undergo, Cakraningrat I have an empress who reputedly very beautiful, with the name Syarifah Ambami who were later known as the Queen Mother.
When the prince had the hermitage, the Queen Mother looks sad and crying constantly. In fact, the stories from people around, the tears that came out to flood the place for meditating. It happened until he died and was buried in the hermitage.
Until now the hermitage, a historic site by local people called the Tomb of Queen Mother Aer Mata, located in the village Buduran, District Arosbaya, Bangkalan.